Kamis, 29 April 2010

Diagnosis Banding Gangguan Menentang Oposisional

Karena perilaku oposisional adalah normal dan adaptif pada stadium perkembangan tertentu, periode negativisme tersebut harus dibedakan dari gangguan menentang oposisional. Perilaku oposisional stadium perkembangan adalah memiliki durasi yang pendek dibandingkan gangguan menentang oposisional dan tidak lebih sering atau lebih kuat dibandingkan yang terlihat pada anak lain dengan usia mental yang sama.

Gangguan menentang oposisional yang terjadi secara sementara sebagai reaksi terhadap stres yang berat harus didiagnosis sebagai gangguan penyesuaian.

Jika ciri-ciri gangguan menentang oposisional tampak selam perjalanan gangguan konduksi, skizofrenia, atau selama suatu gangguan mood, diagnosis gangguan menentang oposisional tidak boleh dibuat.

Perilaku oposisional dan negativistik mungkin juga ditemukan pada gangguan menentang oposisional, gangguan kognitif, dan retardasi mental. Apakah diagnosis bersama gangguan menentang oposisional harus diberikan adalah tergantung pada keparahan, meresapnya, dan lamanya perilaku tersebut.

Beberapa anak kecil yang mendapatkan diagnosis gangguan menentang oposisional memerlukan waktu beberapa tahun untuk memenuhi kriteria gangguan konduksi. Beberapa penliti percaya bahwa dua gangguan tersebut merupakan varian perkembangan satu sama lainnya, dengan gangguan konduksi merupakan perkembangan alami dari gangguan menentang oposisional jika anak menjadi matur. Tetapi, sebagian besar anak dengan gangguan menentang oposisional selanjutnya tidak memenuhi kriteria untuk gangguan konduksi, dan sampai seperempat anak-anak dengan gangguan menentang oposisional tidak memenuhi diagnosis untuk kedua gangguan setelah beberapa tahun kemudian. Secara keseluruhan, konsensus terakhir menyatakan bahwa, walaupun gejala tertentu gangguan konduksi (sebagai contohny, berkelahi dan menggertak) tampaknya terjadi pada anak-anak dengan gangguan menentang oposisional, dua gangguan tetap terpisah berdasarkan gangguan anak secara keseluruhan, dengan gangguan menentang oposisional menghasilkan disfungsi yang lebih sedikit dibandingkan gangguan konduksi.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Menentang Oposisional

A. Pola perilaku negativistik, bermusuhan, dan menentang yang berlangsung sekurangnya 6 bulan, selama mana terdapat empat (atau lebih) berikut ini:

(1) Sering hilang kendali kemarahan

(2) Sering berdebat dengan orang tua

(3) Sering secara aktif mengabaikan atau menolak patuh dengan permintaan atau peraturan orang tua

(4) Sering secara sengaja mengganggu orang lain

(5) Sering menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kekeliruannya

(6) Sering mudah tersinggung atau mudah diganggu oleh orang lain

(7) Sering marah dan membenci

(8) Sering mendengki dan ingin membalas dendam

Catatan: dianggap memenuhi kriteria hanya jika perilaku terjadi lebih sering dari yang biasanya terlihat pada individu dengan usia dan tingkat perkembangan yang sebanding.

B. Gangguan dalam perilaku menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.

C. Perilaku tidak terjadi semata-mata selama perjalanan suatu gangguan psikotik atau gangguan mood.

D. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan konduksi dan, jika individu adalah 18 tahun atau lebih, tidak memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian antisosial.

Gangguan Menentang Oposisional 2

1. Epidemiologi

Perilaku oposisional dan negativistik mungkin normal secara perkembangan pada masa anak-anak awal. Penelitian epidemiologi terhadap sifat negativistik pada populasi nonklinis menemukan gangguan antara 16 dan 22 persen anak usia sekolah. Walaupun gangguan menentang oposisional dapat dimulai seawal usia 3 tahun, biasanya dimulai pada usia 8 tahun dan biasanya tidak lebih dari masa remaja.

Gangguan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan sebelum pubertas, dan rasio jenis kelamin kemungkinan sama setelah pubertas. Satu ahli menyatakan bahwa anak perempuan lebih sering diklasifikasikan menderita gangguan oposisional dibandingkan anak laki-laki, karena anak laki-laki lebih sering mendapatkan diagnosis gangguan konduksi.

Tidak ada poka keluarga yang jelas, tetapi hampir semua orang tua anak-anak dengan gangguan menentang oposisional adalah terlalu memperhatikan masalah kekuasaan, kontrol, dan otonomi. Beberapa keluarga memiliki beberapa anak yang bandel, ibu yang mengendalikan dan depresif, dan ayah yang pasif-agresif. Pada banyak kasus pasien merupakan anak yang tidak diinginkan.

2. Etiologi

Memaksakan keinginan diri sendiri dan menentang keinginan orang lain adalah penting untuk perkembangan normal. Hal ini berhubungan dengan pembentukan otonomi seseorang, membentuk identitas, dan menentukan standar dan kendali dalam diri. Contoh yang paling dramatis dari perilaku oposisional normal memuncak antara usia 18 dan 24 bulan, yaitu dua yang menakutkan (terrible two), saat anak mulai berkelakuan secara negativistik sebagai ekspresi otonimi yang sedang berkembang. Patologi mulai jika fase perkembangan menetap secara abnormal, tokoh berkuasa bereaksi secara berlebihan, atau perilaku oposisional lebih sering terjadi dibandingkan pada sebagian besar anak dengan usia mental yang sama.

Anak-anak mungkin memiliki predisposisi konstitusional atau temperamental untuk keinginan yang kuat, kesukaan yang kuat, atau pemaksaan yang besar. Jika kekuasaan dan kendali adalah masalah bagi pasien atau jika mereka menunjukan kekuasaan untuk kebutuhan mereka sendiri, dapat terjadi perjuangan yang menentukan stadium perkembangan gangguan menentang oposisional. Apa yang dimulai bagi bayi sebagai usaha untuk menegakkan penentuan diri (self-determination) menjadi ditransformasikan sebagai suatu pertahanan terhadap ketergantungan yang berlebihan pada ibu dan sebagai alat perlindungan terhadap serangan ke dalam otonomi ego. Pada masa anak-anak akhir, traumata lingkungan, penyakit, atau inkapasitas kronis, seperti keterbelakangan mental, dapat memicu oposisionalisme sebagai suatu pertahanan terhadap ketidakberdayaan, kecemasan, dan hilangnya hargadiri. Stadium oposisional normatif lain terjadi pada masa remaja sebagai ekspresi untuk menegakkan edentitas yang otonom.

Teori psikoanalitik klasik melibatkan konflik yang tidak terpecahkan yang berkembang selama periode anal. Ahli teori perilaku telah menyatakan bahwa oposisionalisme merupakan perilaku yang didorong dan dipelajari dengan mana anak menunjukan kendali terhadap tokoh yang berkuasa – sebagai contohnya, melakukan temper tantrum jika diminta beberapa tindakan yang tidak disukai, anak memaksa orang tua untuk menarik permintaan mereka. Disamping itu, meningkatnya perhatian orang tua – sebagai contohnya, diskusi yang lama tentang perilaku – dapat mendorong perilaku.

Gangguan Menentang Oposisional

Gangguan menentang oposisional (opositional defiant disorder) adalah suatu pola negativistik, permusuhan, dan perilaku menentang yang terus menerus tanpa adanya pelanggaran yang serius terhadap norma sosial atau hak orang lain. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM-IV) mendefinisikan gangguan sama seperti definisi DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R), dengan sedikit modifikasi berikut. Dama DSM-IV, stu kriteria diagnostik telah dihilangkan (sering bersumpah atau menggunakan bahasa yang cabul), dan hanya empat, bulan lima, gejala yang diperlukan untuk diagnosis. Gangguan tidak dapat didiagnosis jika kriteria untuk gangguan konduksi adalah terpenuhi. Tidak seperti gangguan konduksim gangguan menentang oposisional tidak dapat didiagnosis jika gejala timbul semata-mata selama gangguan mod atau gangguan prikotik. Gejala yang paling sering dari gangguan menentang oposisional adalah yang berikut ini: sering kehilangan kendali, sering berdebat dengan orangtua, sering secara aktif menentang atau menolak mematuhi permintaan atau peraturan orang tua, sering dengan sengaja melakukan hal lain untuk mengganggu orang lain, dan sering menyalahkan orang lain karena kesalahannya sendiri.

Terapi Gangguan Membaca

Terapi terpilih untuk gangguan membaca adalah pendekatan pendidikan pengobatan (remedial educational approach), tetapi, kemanjuran relatif berbagai strategi mengajar pengobatran adalah kontroversial.

Satu metoda yang sering digunakan, dikembangkan oleh Samuel Orton, mendorong perhatian terapetik untuk menguasai unit fonetik sederhana, diikuti dengan mencampurkan unit tersebut menjadi kata dan kalimat. Suatu pendekatan yang secara sistematis menggunakan beberapa indra adalah dianjurkan. Alasan untuk hal tersebut dan metoda yang serupa adalah bahwa kesulitan anak-anak dalam menangani huruf dan duku kata adalah dasar dari kegagalan untuk belajar membaca; dengan demikian, jika mereka diajarkan untuk menghadapi tulisan, mereka akan belajar membaca.

Seperti dalam psikoterapi, hubungan ahli terapi dan pasian adalah penting untuk keberhasilan hasil terapi dalam terapi pendidikan pengobatan.

Anak-anak dengan gangguan membaca harus ditempatkan dalam kelas yang sedekat mungkin dengan tingkat fungsioanal sosialnya dan diberikan tugas pengobatan khusus dalam membaca. Masalah emosional dan perilaku yang ada bersama-sama harus diobati dengan cara psikoterapi yang sesuai. Konseling parental mungkin juga menolong.

Perjalanan Penyakit Dan Diagnosis Gangguan Membaca

Kendati pun tanpa bantuan pengobatan, banyak anak dengan gangguan membacaakan memperoleh sedikit informasi tentang bahasa tercetak selama dua tahun pertama dalam sekolah dasar. Pada akhir kelas satu, beberapa anak telah belajar bagaimana membaca beberapa kata. Tetapi, jika tidak diberikan intervensi pendidikan pengobatan pada kelas tiga, anak tetap terganggu membacanya. Dalam keadaan yang paling baik, anak diklasifikasikan dalam risiko untuk mengalami gangguan membaca selama tahun-tahun sekolah taman kanak-kanak atau pada awal kelas satu.

Jika pengobatan diberikan segera, kadang-kadang dapat dihentikan pada akhir kelas satu atau dua. Pada kasus yang berat dan tergantung pada pola kelemahan dan kekuatan, pengobatan dapat dilanjutkan sampai tahun-tahun sekolah menengah pertama dan atas. Anak-anak yang telah mengkompensasi dengan memuaskan ataupun pulih dari gangguan membaca awal adalah banyak ditemukan dalam keluarga dengan latar belakan sosioekonomi yang maju.

Gambaran Klinis gangguan membaca

Gangguan membaca biasanya tampak pada usia 7 tahun (kelas dua). Pada kasus berat, bukti-bukti kesulitan membca mungkin tampak pada umur 6 tahun (kelas satu). Kadang-kadang gangguan membaca terkompensasi pada tingkat dasar awal, terutama jika disertai dengan skor yang tinggi pada tes kecerdasan. Pada kasus tersebut gangguan mungkin tidak terlihat sampai umur 9 tahun (kelas empat) atau lebih lambat.

Anak dengan gangguan membaca membuat banyak kesalahan dalam membaca oralnya. Kesalahan membaca diitandai oleh menghilangkan, menambahkan, atau penyimpangan kata. Anak-anak tersebut memiliki kesulitan dalam membedakan antara karakter dan ukuran huruf yang tercetak, terutama yang dibedakan hanya oleh orientasi ruang dan panjang garis. Masalah dalam menangani bahasa tercetak atau tertulis mungkin terbatas pada huruf tertentu, kalimat, dan bahkan pada seluruh halaman. Kecepatan membaca anak adalah lambat, seringkali dengan pemahaman yang minimal. Sebagian besar anak dengan gangguan memebca memiliki kemampuan menyalin dari teks tertulis atau tercetak yang sesuai dengan usianya, tetapi hampir semuanya adalah pengeja yang buruk.

Masalah penyerta adalah kesulitan bahsa, yang terlihat sebagai gangguan diskriminasi bunyi dan kesulitan dalam mengurutkan kata dengan tepat. Anak dengan gangguan membaca mungkin memulai huruf di pertengahan atau pada akhir kalimat yang tercetak atau tertulis. Kadang-kadang, anak tersebut memindahkan huruf yang akan dibaca karena burukny pencapaian pengurutan kiri ke kanan. Kegagalan dalam mengingat dan menemukan yang menetap menyebabkan pengingatan nama dan bunyi huruf yang buruk.

Sebagian besar anak dengan gangguan membaca yang tidak menyukai membaca dan menulis menghindarinya. Kecemasan mereka meningkat jika mereka dihadapkan dengan tuntutan yang melibatkan bahasa tertulis.

Sebagian besar anak dengan gangguan membaca yang tidak mendapatkan pendidikan pengobatan memiliki rasa malu dan rendah diri karena kegagalan mereka yang terus menerus dan frustasi. Perasaan tersebut menjadi semakin kuat dengan berjalannya waktu. Anak yang lebih besar cenderung marah dan terdepresi, dan mereka menunjukan harga diri yang buruk.