Digital clock

Kamis, 29 April 2010

GANGGUAN DEFISIT-ATENSI

Gangguan Defisit-Atensi/Hiperaktif

Gangguan defisit/hiperaktivitas (GDAH) ditandai oleh rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperraktivitas dan impulsivitas atau keduanya yang tidak sesuai dengan usia. Untuk memenuhi kriteria diagnosis gangguan harus ada sekurangnya enam bulan, menyebabkan gangguan dalanm fungsi akademik atau sosial, dan terjadi sebelum usia 7 tahun. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM-IV), diagnosis dibuat dengan menegakkan sejumlah gejala dalam bidang inatensi atau bidang hiperaktivitas-impulsivitas atau keduanya. Jadi, seorang anak mungkin memenuhi persyaratan untuk gangguan dengan gejala inatensi saja atau dengan gejala hiperaktivitas dan impulsivitas tetapi bukan untuk inatensi. Beberapa anak menunjukan gejala multipel di sepanjang dimensi. Dengan demikian, DSM-IV menuliskan tiga subtipe gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas: tipe predominan inatentif, tipe predominan hiperaktif-impulsif, dan tipe kombinasi. Suatu kriteria tambahan dalam DSM-IV yang sebelumnya tidak ditemukan dalam DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R) adalah gejala pada dua atau lebih situasi, seperti di sekolah, rumah, dan pekerjaan.

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas telah ditemukan dalam literatur selama bertahun-tahun dengan berbagai istilah. Pada awal tahun 1900-an, anak yang impulsif, terdisinhibisi, dan hiperaktif – banyak yang diantaranya memiliki cedera neurologis yang disebabkan oleh ensefalitis – dikelompokan di bawah label ”sindroma hiperaktif.” Di tahun 1960-an suatu kelompok heterogen anak-anak dengan koordinasi buruk, ketidakmampuan belajar, dan labilitas emosiaonal tetapi tanpa cedera neurologis spesifik digambarkan sebagai menderita cedera otak minimal. Sejak saat itu hipotesis lain telah diajukan untuk menjelaskan asal gangguan, seperti kondisi dengan dasar genetika yang mencerminkan tingkat kesadaran yang abnormal dan kemampuan yang buruk untuk memodulasi emosi. Teori tersebut pada awalnya didukung oleh pengamatan bahwa medikasi stimulan membantu menghasilkan atensi yang bertahan dan memperbaiki kemampuan anak untuk memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan. Sekarang ini, tidak ada faktor tunggal yang dianggap menyebankan gangguan, walaupun banyak variabel lingkungan dapat menyebabkannya dan banyak gambaran klinis yang dapat diramalkan adalah berhubungan dengannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar